Lewati ke konten
Mimika

Warga Kamoro Tidur di Emperan Toko, Kadis Pariwisata: Mereka Datang Tanpa Undangan

18 pembaca
Bagikan

SOROT PAPUA – Ironi mewarnai Festival Seni Budaya Mimika 2026. Saat festival digelar untuk merayakan kekayaan budaya lokal, puluhan warga asli Suku Kamoro dari Kampung Pomako dan Pulau Karaka justru terpaksa tidur di emperan toko di Jalan Yos Sudarso, Timika, karena keterbatasan akomodasi dan biaya selama mengikuti kegiatan.

Berdasarkan pantauan Media, Kamis (8/10/2026) pagi, warga terlihat tidur beralaskan karton, bekas spanduk, dan tikar seadanya. Sejumlah ibu membersihkan tempat mereka bermalam, sementara anak-anak kecil masih terlelap dalam gendongan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang kesiapan penyelenggara dalam mengakomodasi warga dari wilayah pesisir yang datang untuk meramaikan festival budaya daerah.

Yosep Kamenaru dari Sanggar Pokai mengatakan, rombongannya datang membawa hasil anyaman dan ukiran khas Kamoro untuk ditampilkan. Namun, selama berada di Timika, mereka mengaku kesulitan mendapatkan tempat menginap, makanan, hingga fasilitas mandi dan sanitasi.

“Kalau mau mandi atau buang hajat, kami jalan ke keluarga di Gorong-gorong. Panitia juga tidak siapkan kami makan. Yang di stan saja dikasih makan, itu pun untuk tiga orang. Kita datang bawa nama sanggar, tidak boleh tidak (diberi makan),” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Yulianus Mikamaniyu. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya sendiri untuk bahan bakar perahu dari Pulau Karaka ke Pomako, sebelum menumpang truk menuju Timika. Bahkan, hingga menjelang penutupan festival, rombongannya belum memperoleh kepastian mengenai kepulangan.

“Sebentar acara selesai, kami belum ada informasi kepulangan seperti apa. Semoga diperhatikan. Ini datang kami isi bensin perahu sendiri dan numpang truk ke sini,” katanya.

Sementara itu, Maria Salome Minayau mengaku kebutuhan makan keluarganya selama empat hari di Timika tidak terpenuhi. Mereka terpaksa membeli gorengan untuk mengganjal perut, bahkan anak-anak disebut sempat tidak mendapatkan makanan.

“Mereka tidak kasih makan, kosong. Pagi kami beli gorengan, siang begitu lagi. Anak-anak sampai tidak makan,” tuturnya dengan sedih.

Kadis Soroti Kedatangan Warga Tanpa Undangan

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, menyatakan telah menemui langsung kelompok warga yang tidur di emperan toko tersebut.

Namun, penjelasan Elisabeth menyoroti bahwa warga datang atas inisiatif sendiri, bukan sebagai peserta yang diundang secara resmi oleh dinas.

“Saya sampaikan kepada mereka, mama-mama, bapak-bapak, apakah sudah tahu bahwa yang mengikuti kegiatan ini hanya yang diundang oleh dinas? Mereka menjawab sudah tahu, tetapi datang atas keinginan sendiri untuk menyaksikan langsung festival,” ujar Elisabeth saat ditemui di Lapangan Eks Pasar Sentra, Kamis (8/10/2026).

Menurut Elisabeth, warga mengaku datang untuk meramaikan festival sekaligus ikut menari seka. Mereka memilih bertahan di depan toko untuk menghemat biaya transportasi daripada harus bolak-balik ke Pomako setiap hari.

Ia mengaku sempat mengira kelompok tersebut berasal dari Kampung Nayaro karena bus operasional Nayaro biasa berada di kawasan itu. Setelah dikonfirmasi, warga ternyata berasal dari Pomako dan sekitarnya serta tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak dinas.

Meski demikian, Elisabeth mengatakan pihaknya telah memberikan bantuan makanan dan menyiapkan kendaraan untuk mengantar warga kembali ke daerah asal setelah penutupan festival.

“Saya sudah berikan makanan untuk mereka semua dan menyiapkan kendaraan agar hari ini, saat penutupan, langsung kami antar pulang,” tegasnya.

Ia juga menyebut warga telah makan siang dan menyampaikan permohonan maaf karena datang tanpa memberi tahu pihak dinas sebelumnya.

Festival Budaya dan Persoalan Kepedulian

Kasus ini menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan festival budaya di Mimika. Di satu sisi, masyarakat adat diharapkan ikut menjaga dan menampilkan warisan leluhur. Namun, di sisi lain, kehadiran warga dari wilayah pesisir juga berhadapan dengan persoalan kebutuhan dasar, mulai dari makanan, tempat beristirahat, hingga transportasi.

Pernyataan bahwa warga datang tanpa undangan resmi menjadi bagian penting dari penjelasan dinas. Meski begitu, kondisi warga yang tidur di emperan toko dan mengaku kesulitan makan menunjukkan perlunya evaluasi mengenai mekanisme koordinasi, informasi bagi peserta, serta antisipasi terhadap kedatangan masyarakat yang ingin berpartisipasi secara mandiri.

Ke depan, pemerintah daerah dan panitia perlu memastikan informasi tentang undangan, fasilitas, konsumsi, dan transportasi disampaikan secara jelas sebelum kegiatan berlangsung. Dengan begitu, perayaan budaya tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap masyarakat adat yang menjadi bagian utama dari kekayaan budaya Mimika.

Baca Juga

Andre

Reporter/kontributor Biarkan Fakta Yang Bicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *