SOROT PAPUA – Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) mengikuti program Eksekutif Mengajar PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan antusias. Program ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana teknologi, manajemen risiko, dan kemampuan profesional diterapkan dalam industri pertambangan modern.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN, Jayapura, Papua, Selasa (15/9), menghadirkan jajaran manajemen PTFI sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan praktis kepada mahasiswa.
Salah seorang peserta, Isabella Waicang, mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan UNCEN, mengaku mendapatkan wawasan baru melalui kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran langsung dari praktisi industri membantu mahasiswa memahami hubungan antara teori akademik dan tantangan nyata di lapangan.
“Yang paling menarik, kami bisa melihat langsung bagaimana teori di kampus dipakai untuk menjawab tantangan nyata di industri. Tidak hanya belajar tentang pekerjaan di tambang, tetapi juga tentang cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia profesional,” ujar Isabella.
Program Eksekutif Mengajar yang memasuki penyelenggaraan kedua ini menghadirkan Senior Vice President Operations Maintenance PTFI Ayep Dirmawan dan Vice President Community Relations PTFI Engel Enoch.
Ayep membahas perkembangan teknologi dalam meningkatkan keandalan operasional pertambangan, khususnya melalui pengelolaan pemeliharaan peralatan. Ia menjelaskan bahwa pendekatan pemeliharaan kini tidak lagi sebatas memperbaiki peralatan setelah mengalami kerusakan, tetapi juga mengantisipasi gangguan sebelum terjadi.
Melalui analisis data serta penerapan *preventive maintenance* dan *predictive maintenance*, perusahaan dapat mendeteksi potensi kerusakan lebih dini, mengurangi risiko gangguan operasional, dan mengambil keputusan secara lebih tepat.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi. Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting,” kata Ayep.
Selain aspek teknologi dan operasional, mahasiswa juga diajak memahami pentingnya hubungan sosial dalam menjalankan industri pertambangan. Engel Enoch menekankan bahwa membangun kepercayaan, membuka ruang dialog, dan menjalin kolaborasi dengan para pemangku kepentingan merupakan bagian penting dari keberlanjutan kegiatan usaha.
Menurut Engel, kemampuan memahami perspektif orang lain serta konteks sosial dan budaya menjadi kompetensi yang sangat diperlukan, terutama di Papua yang memiliki keragaman masyarakat dan kepentingan.
“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNCEN, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., saat membuka kegiatan mengatakan, program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis yang melengkapi pembelajaran di ruang kelas.
Ia berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan pertemuan langsung dengan para eksekutif PTFI untuk memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja.
“Saya berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan momentum belajar langsung dengan praktisi eksekutif PTFI ini sebaik-baiknya sebagai bekal berharga sebelum memasuki dunia kerja,” katanya.
Program Eksekutif Mengajar pertama kali diselenggarakan di Kampus UNCEN pada 29 April 2026 dengan menghadirkan Vice President Mining Safety Division PTFI Eman Widijanto dan Vice President Corporate Communication PTFI Katri Krisnati.
Melalui program ini, PTFI dan UNCEN terus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, membangun kesiapan memasuki dunia profesional, serta memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai tantangan dan kebutuhan industri pertambangan modern di Papua.




