SOROT PAPUA – Angka kasus malaria di Kabupaten Mimika kembali menjadi alarm serius bagi seluruh pihak. Hingga 22 September 2026, tercatat 118.314 kasus positif malaria di daerah ini, dengan Annual Parasite Incidence (API) mencapai 556,04 per 1.000 penduduk.
Mimika bahkan masih berada dalam kategori endemis tinggi III pada peta endemisitas malaria 2026.
Data tersebut menunjukkan bahwa malaria belum dapat dipandang sekadar sebagai persoalan layanan kesehatan. Tingginya kasus membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk media, untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan, pemeriksaan dini hingga kepatuhan menjalani pengobatan.
Kondisi itu yang mendorong Yayasan Amungsa Cares Papua (YACP) mengajak media lokal di Mimika mengambil peran lebih besar melalui Program KAS BUNYI.
Manajer Program YACP, Febian Kakisina, mengatakan media memiliki posisi strategis karena mampu membawa informasi kesehatan langsung ke ruang kehidupan masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga kampung.
“Malaria tidak cukup dilawan hanya dengan obat dan pelayanan kesehatan. Kita juga harus memastikan masyarakat menerima informasi yang benar, berulang, dan mudah dipahami. Di sinilah media memiliki peran besar. Media dapat membantu mengubah data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi tindakan,” ujar Febian dalam siaran pers YACP, Sabtu (3/10/2026).
Angka Tinggi, Tantangan Masih Besar
Data capaian malaria Provinsi Papua Tengah yang diperbarui pada 22 September 2026 juga memperlihatkan masih adanya pekerjaan besar dalam pengendalian malaria di Mimika.
Selain mencatat 118.314 kasus positif, dari 3.537 orang yang diskrining, sebanyak 2.665 tercatat dalam data capaian tersebut.
Sementara itu, capaian pengobatan standar malaria berada pada angka 90,27 persen, masih di bawah target program yang ditetapkan sebesar 95 persen.
Penemuan kasus juga masih lebih banyak dilakukan oleh tenaga kesehatan, yakni 84,86 persen, sementara kontribusi kader berada di angka 15,14 persen.
Bagi YACP, angka-angka tersebut tidak boleh berhenti sebagai laporan statistik. Data harus diterjemahkan menjadi informasi yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat agar mendorong perubahan perilaku.
Mulai dari segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala malaria, mengonsumsi obat sesuai anjuran hingga tuntas, tidur menggunakan kelambu, melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak, serta menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
KAS BUNYI: “Data Harus Menjadi Aksi”
Melalui Program KAS BUNYI, YACP mengusung pesan “Data Harus Menjadi Aksi” dengan semangat TOKEN: Temukan, Obati, Kendalikan.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat edukasi malaria di sekolah dan komunitas, kampanye publik, komunikasi melalui media massa dan platform digital, dialog, podcast, hingga produksi materi dokumentasi dan sosialisasi.
YACP ingin memastikan pesan pencegahan malaria tidak hanya muncul ketika kasus sedang meningkat, tetapi terus hadir secara konsisten dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Febian, pemberitaan malaria juga tidak seharusnya hanya ramai ketika terjadi lonjakan kasus atau ketika pemerintah menggelar agenda tertentu.
Media, kata dia, dapat menjadi mitra edukasi kesehatan publik dengan menghadirkan informasi praktis dan berkelanjutan.
“Kalau pesan malaria hanya muncul sesekali, dampaknya akan terbatas. Kita membutuhkan suara yang terus berbunyi. Program KAS BUNYI ingin berjalan bersama media agar pesan pencegahan malaria hadir secara konsisten dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat,” katanya.
Media Jangan Hanya Memberitakan Kasus
YACP mengajak media lokal di Mimika untuk memperkuat pemberitaan malaria berbasis data sekaligus menghadirkan edukasi yang bisa langsung diterapkan masyarakat.
Media juga didorong memberikan ruang kepada tenaga kesehatan, kader, sekolah dan komunitas untuk menyampaikan pengalaman serta informasi mengenai pencegahan malaria.
Langkah tersebut dinilai penting karena upaya eliminasi malaria di Mimika masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari mobilitas penduduk yang tinggi, kondisi geografis, lingkungan yang mendukung perkembangan vektor, penguatan surveilans dan kualitas data, faktor sosial budaya hingga kebutuhan koordinasi lintas sektor.
“Kami percaya media lokal dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong perubahan perilaku dan mendukung penurunan kasus malaria di Mimika,” tegas Febian.
YACP berharap kolaborasi pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga medis, kader, sekolah, komunitas, media dan mitra pembangunan dapat semakin diperkuat.




