SOROT PAPUA – Membangun Mimika tidak cukup hanya dengan menghadirkan pembangunan fisik. Perubahan juga harus dimulai dari pola pikir, wawasan, dan kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda Papua. Pandangan inilah yang menjadi salah satu perhatian Anggota DPR Provinsi Papua Tengah dari daerah pemilihan Mimika, Nancy Natalia Raweyai.
Politisi yang akrab disapa Nancy itu menilai pendidikan dan literasi memiliki peran strategis dalam membuka cakrawala berpikir generasi muda sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, pendidikan bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga proses membangun kesadaran, memperluas pengetahuan, dan menumbuhkan keberanian untuk menciptakan perubahan di lingkungan sendiri.
“Pendidikan adalah salah satu kunci dan senjata untuk melakukan perubahan. Melalui pendidikan, kita bisa membuka wawasan dan mengubah pola pikir generasi muda,” kata Nancy, Selasa (20/10/2026).
Ia menilai, Papua memiliki tantangan pembangunan yang kompleks, termasuk persoalan sosial dan sejarah konflik yang panjang. Karena itu, akses terhadap pendidikan dan ruang belajar yang memadai perlu terus diperkuat agar generasi muda memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi bagi daerahnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Nancy menyebut pembangunan rumah literasi atau rumah baca di Nabire sebagai salah satu langkah yang telah dilakukan. Sementara di Mimika, ia mulai membuka komunikasi dengan sejumlah komunitas yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan gerakan membaca, termasuk komunitas Singgah Baca serta kelompok perempuan.
Menurut Nancy, kolaborasi dengan komunitas menjadi penting karena gerakan literasi tidak dapat berjalan hanya melalui satu pihak. Diperlukan keterlibatan masyarakat agar kegiatan membaca dan belajar dapat menjangkau lebih banyak anak serta generasi muda.
Selain pendidikan, ia juga menaruh perhatian pada sektor kesehatan. Nancy mengatakan, dirinya berupaya mendukung berbagai kegiatan pelayanan kesehatan, termasuk kegiatan yang dilaksanakan di wilayah Jayanti, sesuai dengan kemampuan dan dukungan yang dapat diberikan.
Ia memandang pendidikan dan kesehatan sebagai dua sektor yang saling berkaitan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Generasi yang sehat membutuhkan kesempatan belajar, sementara pendidikan yang baik dapat membantu masyarakat memahami pentingnya menjaga kesehatan.
Nancy juga melihat film edukasi sebagai media alternatif yang berpotensi memperluas penyampaian informasi kepada masyarakat Papua. Melalui film, pesan mengenai pendidikan, kesehatan, dan persoalan sosial dapat dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan edukasi perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai media agar pesan pembangunan tidak hanya menjangkau masyarakat yang terbiasa mengakses informasi tertulis.
Di balik berbagai upaya tersebut, Nancy memiliki harapan agar masa pengabdiannya sebagai anggota legislatif meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Ia tidak ingin jabatan yang hanya dijalani dalam kurun waktu tertentu berhenti sebagai status, tetapi menjadi kesempatan untuk menghasilkan kontribusi nyata.
“Saya ingin meninggalkan warisan yang baik dan menjadi teladan. Saya juga ingin masyarakat tahu bahwa ada perempuan Papua dari wilayah pesisir yang berjuang untuk membawa perubahan di tanahnya sendiri,” ungkapnya.
Bagi Nancy, perubahan Mimika harus dimulai dari manusianya. Ketika generasi muda memiliki pengetahuan, wawasan, dan kesempatan untuk berkembang, mereka dapat menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan daerah.
Karena itu, ia berharap gerakan literasi, pendidikan, dan kolaborasi antarkomunitas terus berkembang sehingga semakin banyak anak muda Papua memiliki ruang untuk belajar, berkreasi, dan mengambil peran dalam membangun masa depan Mimika.




