SOROT PAPUA – Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya peserta didik, tetapi juga harus menjadi penggerak ekonomi bagi warga di sekitar dapur.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Papua, Djimmy Yomaiwi Douw, ST., MM., menegaskan bahwa keberadaan dapur SPPG harus memberikan dampak ekonomi nyata dengan melibatkan petani, peternak, pedagang hingga pelaku usaha lokal sebagai pemasok bahan pangan.
Hal tersebut disampaikan Djimmy saat menghadiri kegiatan launching seremonial SPPG di Kabupaten Mimika. Ia menjelaskan, program pemenuhan gizi yang berjalan di sejumlah sekolah mulai menunjukkan perkembangan positif, terlihat dari meningkatnya partisipasi peserta didik.
Menurutnya, tingkat partisipasi di sejumlah sekolah mengalami peningkatan secara bertahap, dari sekitar 20 persen, kemudian 60 persen, 90 persen, hingga mencapai 99 persen. Meski menunjukkan perkembangan, evaluasi tetap diperlukan agar pelaksanaan program semakin optimal.
Di sisi lain, Djimmy menyoroti pentingnya pemerataan kesempatan bagi pemasok bahan pangan agar manfaat ekonomi dari operasional dapur SPPG tidak hanya dinikmati segelintir pihak.
Ia mengungkapkan, satu dapur SPPG rata-rata melibatkan sekitar 15 pemasok bahan pangan. Karena itu, seluruh pemasok harus diberikan kesempatan secara proporsional dan tidak boleh terjadi dominasi oleh satu pihak.
“Kalau ada satu dapur yang didominasi oleh satu supplier, nanti laporkan kepada kami. Semua harus mendapatkan kesempatan,” tegasnya.
Djimmy juga menekankan bahwa pengadaan bahan pangan harus mengutamakan potensi masyarakat setempat. Jika kebutuhan dapur tersedia di lingkungan sekitar, maka pemasok lokal harus menjadi prioritas, termasuk yang berada dalam radius sekitar 1 hingga 2 kilometer dari lokasi dapur.
“Program ini memang harus berfokus pada daerah. Kalau bahan pangan tersedia di sekitar sini, kita utamakan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Menurut Djimmy, besarnya kebutuhan bahan pangan setiap hari menjadikan dapur SPPG sebagai peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Salah satunya kebutuhan telur yang dalam satu dapur dapat mencapai sekitar 100 rak per hari, bergantung pada jumlah penerima manfaat dan menu yang disiapkan.
Kebutuhan dalam jumlah besar tersebut membuka peluang bagi petani sayur, peternak ayam, pedagang serta pelaku usaha lokal untuk terlibat langsung dalam rantai pasok program pemenuhan gizi.
“Kalau kita mengambil bahan dari masyarakat di sekitar sini, artinya orang-orang tua bisa membawa sayur, lauk dan bahan pangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan dapur. Dengan begitu, rantai ekonomi masyarakat juga dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.
Ia berharap seluruh pengelola dapur, pemasok dan pihak terkait dapat membangun kerja sama yang baik agar program SPPG tidak hanya memberikan manfaat dari sisi kesehatan dan gizi, tetapi juga menciptakan peluang usaha serta meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar dapur.
Djimmy menegaskan, KPPG Papua akan terus melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program, termasuk memastikan pengadaan bahan pangan berjalan sesuai ketentuan, kesempatan pemasok lebih merata, serta manfaat program dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Dengan demikian, SPPG diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelayanan pemenuhan gizi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemanfaatan potensi dan sumber daya yang dimiliki masyarakat setempat.




