Lewati ke konten
Birokrasi/Pemerintahan

BRIDA Mimika Bidik Potensi Jila, Agimuga dan Mimika Barat Lewat Koperasi

18 pembaca
Bagikan

SOROT PAPUA – Pemerintah Kabupaten Mimika mulai menyiapkan model koperasi yang tidak sekadar menjadi tempat simpan pinjam, tetapi berperan sebagai penggerak rantai nilai ekonomi masyarakat di wilayah terpencil.

Model tersebut dirumuskan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika bersama Institut Jambatan Bulan (IJB) melalui Kajian Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Koperasi di Wilayah Terpencil Tahun 2026.

Hasil kajian dipaparkan dalam seminar akhir di Aula Lantai III Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika, Jumat (2/10). Kajian mencakup tiga distrik, yakni Jila, Agimuga dan Mimika Barat.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Petrus Pali Amba, saat mewakili Bupati Mimika menegaskan pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti di wilayah perkotaan, tetapi harus menyentuh masyarakat pesisir, pedalaman hingga pegunungan.

Menurutnya, karakteristik wilayah terpencil membutuhkan model ekonomi yang berbeda karena menghadapi persoalan transportasi, infrastruktur, biaya distribusi dan keterbatasan akses pasar.

“Model usaha yang dapat berjalan di perkotaan belum tentu sesuai untuk kampung yang akses transportasi dan pasarnya terbatas,” ujarnya.

Potensi Lokal Jadi Kekuatan

Ketua Tim Peneliti IJB, Dr. Abu Bakar, mengatakan kajian dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat, koperasi, pemerintah distrik dan kampung, tokoh adat, kelompok usaha serta OPD terkait.

Hasil kajian menemukan koperasi di wilayah terpencil masih menghadapi persoalan tata kelola, administrasi, sumber daya manusia, modal, partisipasi anggota, transportasi dan pemasaran.

Namun, tiga distrik tersebut memiliki potensi ekonomi yang cukup beragam.

Jila memiliki komoditas potensial seperti kopi, buah merah, bawang merah, cabai, sayuran, peternakan, perikanan dan hasil hutan. Agimuga memiliki potensi kopi robusta, padi gogo, petatas, kacang tanah, jagung serta berbagai buah dan tanaman perkebunan.

Sementara Mimika Barat memiliki kekuatan pada sektor perikanan dan sagu, dengan komoditas seperti kakap atau kerapu, cumi-cumi, udang dan kepiting bakau.

Bukan Sekadar Jual Bahan Mentah

Model yang dirumuskan menempatkan koperasi sebagai penghubung dari produksi hingga pasar.

Koperasi nantinya diarahkan mengelola pengumpulan hasil, pengolahan, penyimpanan, transportasi hingga pemasaran. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual produk mentah, tetapi memiliki peluang memperoleh nilai tambah lebih besar.

“Penguatan koperasi harus dimulai dari kelembagaannya, kemudian dikembangkan unit usaha produktif yang sesuai dengan potensi dan kemampuan masyarakat,” jelas Abu Bakar.

Tim peneliti merekomendasikan Distrik Jila sebagai lokasi awal atau pilot project dengan fokus utama pada pengembangan komoditas kopi serta penguatan sistem pengumpulan, pengolahan, logistik dan pemasaran.

Penerapan model akan dilakukan melalui roadmap tiga tahun, dimulai dari pembenahan kelembagaan dan SDM, pengembangan usaha produktif dan rantai pasok, hingga perluasan kemitraan, pembiayaan dan pasar.

Hasil kajian ini selanjutnya diharapkan menjadi pijakan BRIDA Mimika dalam mendorong kebijakan pembangunan berbasis riset dan inovasi, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, koperasi, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha dan lembaga keuangan.

Dengan model tersebut, koperasi diharapkan tidak hanya menjadi lembaga ekonomi kampung, tetapi menjadi motor yang menghubungkan potensi lokal dengan pasar dan mengembalikan nilai tambah kepada masyarakat.

Baca Juga

Andre

Reporter/kontributor Biarkan Fakta Yang Bicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *